Mark Elliot Zuckerburg, The Facebook Founder


Mark Elliot Zuckerburg berbekal otak jeniusnya, sukses merancang Facebook. Inilah sukses kedua Silicon Valley, setelah Google.

Usia muda bukan halangan untuk bisa kaya dan sukses. Ini dibuktikan Mark Elliot Zuckerberg, seorang pemuda 24 tahun asal AS, yang berhasil membuat jutaan orang keranjingan Facebook, situs jejaring sosial dunia maya ciptaannya. Per 13 Januari 2009, seperti dikutip BusinessWeek, Facebook diperkirakan berhasil merengkuh pendapatan iklan US$250–300 juta. Atas prestasi itu, Mark ditahbiskan sebagai programer komputer dan pengusaha sukses penerus jejak Bill Gates. Bahkan, pada 2008, majalah Time menyebut Mark sebagai salah satu dari “100 Orang Paling Berpengaruh”. Sementara itu, Forbes mendudukkan dia di posisi ke-321 dari “400 Orang Terkaya di AS”, dengan total kekayaan US$1,5 miliar. Ia juga tercatat sebagai orang kaya termuda dengan harta kekayaan bukan warisan orang tua, melainkan hasil keringat sendiri.

Rabu (7/1) pagi waktu AS, Mark mengklaim bahwa pemilik akun di Facebook mencapai 150 juta, dengan sepertiganya berada di AS. Padahal, tiga minggu sebelumnya, mereka baru menyebut angka 140 juta. “Pertumbuhan pengguna Facebook rata-rata 450.000 per hari,” katanya. Pria berwajah bayi ini menargetkan situs buatannya bisa menarik 300 miliar hit pada akhir 2009. Menurut pantauan Alexa.com, sebuah perusahaan informasi web, per 16 Januari 2009, tingkat traffic Facebook berada di peringkat ke-5, di bawah Yahoo!, Google, YouTube, dan Windows Live. “Kami berniat menerjemahkan situs ke dalam beberapa bahasa non-Inggris. Semoga ini bisa merengkuh lebih banyak pengguna dari berbagai kelompok umur dan demografi,” imbuhnya.

Mendulang Emas
Lelaki kelahiran White Plains, New York, AS, 14 Mei 1984, ini mencintai dunia komputer sejak dini. Semasa remaja, ia gemar mengutak-atik program komputer untuk menciptakan program baru, terutama untuk permainan dan komunikasi. Bahkan, saat masih duduk di bangku SMA Phillips Exeter Academy, Mark membuat program komunikasi antarkaryawan yang bekerja di kantor ayahnya, yang membuka praktek dokter gigi di Dobbs Ferry, New York, AS. Kiprah anak pasangan Edward dan Karen Zuckerberg ini terus berlanjut dengan menciptakan program pemutar musik (music player) Synapse—sebuah program yang dapat digunakan untuk mengetahui kebiasaan para pendengar dan penikmat musik—yang menarik perhatian Microsoft dan AOL. Dua korporasi besar itu bahkan berniat merekrut Mark untuk menjadi pegawainya. Namun, Mark menolak tawaran tersebut dan memilih melanjutkan kuliah di Harvard University.
Di Harvard, bakat Mark kian terasah. Pada 2003, ia menciptakan Coursematch, sebuah situs yang memungkinkan mahasiswa memilih kelas berisi teman-teman yang diinginkan. Ia lalu menciptakan cikal bakal situs jejaring sosial bernama facemash.com. Situs ini ia ciptakan sebagai bentuk protes atas situs resmi Harvard University yang tidak mencantumkan direktori khusus untuk menampilkan foto para mahasiswa. Menurut Mark, lewat foto dan data diri dalam Facemash, mahasiswa Harvard bisa tahu siapa saja teman-teman kuliahnya. Sayangnya, usia Facemash hanya seumur jagung. Harvard meminta Mark menutupnya. Sialnya, Mark pun harus berhadapan dengan departemen pelayanan jaringan komputer Harvard, karena dianggap membobol keamanan situs resmi universitas, dan diharuskan membayar sejumlah denda.
Kasus Facemash tidak membuat Mark jera. Pada 2004, Mark kembali menciptakan program bertajuk The Rome of Augustus untuk membantu teman-temannya mengerjakan ujian akhir mata kuliah sejarah. Lewat program ini, setiap mahasiswa dapat mengirimkan informasi dan memberikan komentar satu sama lain atas setiap informasi dan gambar yang diunggah, berkaitan dengan tugas dan ujian sejarah mereka. Hasilnya, mahasiswa dapat belajar lebih cepat, praktis, dan lebih mengerti ketimbang belajar lewat buku. Berkat program ciptaannya itu, Mark dan kawan sekelasnya mendapatkan nilai A—nilai terbaik sepanjang sejarah Harvard untuk mata kuliah sejarah.
Meski sudah beberapa kali menciptakan program untuk teman-temannya di Harvard, Mark masih ingin menciptakan program baru. Di kamar asramanya, dengan bantuan teman sekamarnya, Dustin Moskovitz, Crish Hughes, dan Andrew McCollum, pada 4 Februari 2004, lahirlah Facebook, yang semula keanggotaannya dibatasi untuk siswa Harvard. Dalam waktu dua minggu, sepertiga dari siswa Harvard telah menjadi anggota tetap Facebook. Dua bulan kemudian, keanggotaannya diperluas ke wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain bergabung turut dalam kurun waktu setahun setelah peluncuran. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat elektronik suatu universitas (seperti .edu, .ac, dan sebagainya) dari seluruh dunia bergabung juga dengan situs ini. “Semula kami mendirikan Facebook hanya untuk mahasiswa Harvard. Kini, semua orang bisa bergabung. Benar-benar pertumbuhan yang cepat,” ujar Mark, pendiri sekaligus CEO Facebook.
Kini, pengguna Facebook menembus angka 150 juta di seluruh dunia. Selanjutnya, pengguna bisa bergabung dalam satu atau lebih dari 55.000 jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah tingkat atas, kampus, tempat kerja, atau wilayah geografis.
Melihat besarnya animo, Mark dan kawan-kawan memutuskan untuk hijrah ke Palo Alto, California, pada musim panas 2004. Di kota ini, mereka menyewa sebuah rumah untuk kantor Facebook. Beberapa bulan kemudian, Mark bertemu dengan Peter Andreas Thiel, kelahiran 1967, seorang hedge fund manager dan venture capitalist, yang menginvestasikan sejumlah dana pada Facebook. Akhirnya, Facebook resmi memiliki kantor sendiri di University Avenue, sebuah kota kecil di Palo Alto.
Kini, Facebook memiliki tujuh kantor dan 200-an pekerja, sebagian penduduk asli Palo Alto. Tidak hanya itu, keberadaan Facebook di Palo Alto disebut Mark sebagai “urban campus”. Menariknya, walau Mark merintis pendirian Facebook, ia tak pernah menyelesaikan kuliahnya di Harvard University. Kisah Mark ini mirip Bill Gates, pendiri Microsoft, yang juga drop out (DO) dari kampus yang sama. Sebelum mendapat gelar “DO” pun Mark sudah menganggap Bill Gates sebagai idolanya.
Mark adalah orang yang sederhana dan simpel. Dia bahkan masih terjun langsung mengurus bisnisnya. “Saya bangun pagi setiap hari, jalan kaki ke salah satu kantor yang jaraknya empat blok dari rumah. Saya bekerja, bertemu banyak orang, berdiskusi dengan mereka, dan kembali lagi ke rumah untuk tidur. Saya tidak punya alarm. Jadi, kalau ada yang membutuhkan saya, padahal saya sedang tidur, telepon saja. Selalu ada BlackBerry di samping saya,” ujar penggemar hang out dengan keluarganya saat libur musim panas ini.
Apa yang membuat orang menyukai Facebook? Papar Mark, “Sederhana. Semua orang suka berkomunikasi dengan para sahabat dan orang-orang di sekitar mereka. Kami tahu itu, dan menyediakan sarana untuk memudahkan orang saling bertukar informasi, foto, video, atau kegiatan mereka. Namun, semua hanya terwujud jika hubungan antarmereka nyata, bukan imajinasi. Ini yang membedakan Facebook dengan situs-situs sejenis lainnya.”
Ia menambahkan, tujuan Facebook adalah agar orang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tidak pula untuk membentuk komunitas baru atau jaringan baru. “Apa yang kami lakukan adalah membuat komunikasi antarmanusia seefisien mungkin. Tak hanya mendapat informasi, tetapi juga berbagi. Oleh karena itu, kami mengembangkan komponen-komponen dalam Facebook yang benar-benar dibutuhkan pengguna,” katanya.

Bukan Jalan Mulus
Sukses Mark tidak berlangsung mulus. Ia dituding, rancangan Facebook sebenarnya tiruan. Divya Narendra, Cameron Winklevoss, dan Tyler Winklevoss, yang merupakan teman-teman sekelas Mark, mengklaim bahwa Mark mencuri ide mereka dalam membuat Facebook. Kasus ini sempat dibawa ke pengadilan yang akhirnya dimenangkan Mark. Pengadilan menilai tuduhan Divya dan kawan-kawannya tidak beralasan.
Tidak hanya itu, akibat tentangan dari penggunanya, Facebook sempat melakukan beberapa perubahan. Pertama, pada 2006, pengguna memprotes fitur “news feed” karena terlalu membeberkan banyak informasi mengenai aktivitas mereka. Ini mengakibatkan Mark harus minta maaf dan mengubah aplikasi tersebut supaya pengguna bisa lebih mengontrol informasi apa saja yang bisa dibagi. Kedua, akhir tahun lalu, Mark kembali harus meminta maaf akibat sebuah alat pelacak “Beacon” yang bisa menyebarkan informasi mengenai kebiasaan belanja mereka dan preferensi pribadi melalui aktivitas di situs lain. Akhirnya, Facebook mematikan fitur tersebut.
Facebook harus menghadapi pesaingnya, MySpace, yang sedang menghimpun kekuatan bersama Google Inc., demi memperluas ekspansinya dan menjegal Facebook. Google baru-baru ini kehilangan beberapa karyawannya yang hijrah ke Facebook. Ben Ling, misalnya, salah satu mantan teknisi top di Google, kini bergabung dengan Facebook.
Agar pengguna Facebook tak beralih ke situs jejaring sosial lain, manajemen Facebook memungkinkan pengguna memiliki kendali atas informasi dan dapat meningkatkan level informasi. “Oleh karena para penjahat dunia maya makin agresif mencari korban di situs jejaring sosial, pengguna bisa membatasi tampilan informasi,” kata Mark. Selain itu, yang membedakan Facebook dengan jejaring sosial maya lainnya adalah sistem keanggotaan tertutup serta eksklusif, dan tidak untuk kepentingan bisnis.
Lalu, mengapa Mark betah mengurusi Facebook kendati ia telah menjadi miliarder? “Saya senang mengurusi Facebook, karena bisa bekerja sama dengan orang-orang pintar dengan latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda demi menciptakan kemudahan berkomunikasi,” tuturnya.
Mark Elliot Zuckerburg, The Facebook Founder Mark Elliot Zuckerburg, The Facebook Founder Reviewed by Atom on 15.51 Rating: 5

1 komentar:

Komen donk ^^

Diberdayakan oleh Blogger.